STUDI KASUS
A. Pengertian
Studi Kasus
Ada beberapa
pengertian studi kasus yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu :
·
Kamus Psikologi (Kartono dan Gulo, 2000)
menyebutkan 2 (dua) pengertian tentang Studi kasus (Case Study) :
1) Studi
kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua
informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan
dengan satu gejala psikologis tunggal.
2) Studi
kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis tentang seorang
individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi.
·
WS. Winkel, Studi kasus adalah suatu
metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam
dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik .
·
Dewa Ketut Sukardi, Studi kasus adalah
metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. Integrative
artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu
data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap).
·
Studi kasus adalah kajian intensif,
menyeluruh, dan mendalam terhadap seorang konseli guna memahami situasi
kehidupan yang dihadapinya untuk
selanjutnya merancangkan dan melaksanakan proses pelayanan bimbingan
konseling yang lebih tepat (panduan PLBK,2012)
Berdasarkan
beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa studi kasus adalah suatu
kegiatan yang dilakukan untu memperoleh data yang lengkap tentang individu yang
kemudian diolah atau dianalisis, yang hasilnya digunakan untuk menduga permasalahan dari individu tersebut, sehingga
dapat dilaksanakan layanan bimbingan dan/atau konseling setepat mungkin.
B. OBJEK
STUDI KASUS
S. Nasution
mengemukakan objek pelaksanaan studi kasus : a) individu atau sekolompok
individu, b) segolongan manusia (suku), c) lingkungan hidup manusia (desa atau
kota), d) lembaga social (perkawinan). Sedangkan Pauline V.Young
mengeolompokkan menjadi 2 yaitu a) kelompok social kecil (keluarga, gang), b)
kelompok social besar (sekte, pengadilan). Dalam bimbingan konseling objek
studi kasus tidak lain adalah individu.
Adapun data yang
dikumpulkan, yaitu :
1. Identifikasi
diri (nama,umur dsb)
2. Latar
belakang keluarga
3. Keadaan
kesehatan dan perkembangan jasmani
4. Kemampuan
dasar (bakat,minat dsb)
5. Prilaku
social
C. CIRI-CIRI
STUDI KASUS
Studi kasus memiliki cirri-ciri
khas, antara lain :
a) Rahasia
, data tentang diri konseli yang telah diperoleh merupakan informasi yang
sifatnya rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan klien. Adalah
kewajiban konselor untuk memegang rahasia klien
b) Komprehensif
yaitu lengkap, mendetail dan intensif.
Studi
kasus merupakan teknik yang paling tepat dalam pelayanan bimbingan konseling
karena sifatnya yang konfrehensif dan menyeluruh. Studi kasus adalah metode
pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. (Robert K Yin.
2002)
D.
TAHAP-TAHAP STUDI KASUS
Beberapa tahap dalam
studi kasus yaitu sebagai berikut:
1. Mengenali
Gejala
Pertama-tama
yang harus kita lakukan adalah mengamati adanya suatu gejala, gejala itu
mungkin ditemukan atau diperoleh dengan beberapa cara yaitu :
-
Konselor
sekolah menemukan sendiri gejala itu pada siswa yang mempunyai masalah.
-
Guru
mata pelajaran memberikan informasi adanya siswa yang bermasalah kepada
Konselor sekolah.
-
Wali
kelas meminta bantuan Konselor sekolah untuk menangani seseorang siswa yang
bermasalah berdasarkan informasi yang diterimanya dari pihak lain, seperti
siswa, para guru ataupun pihak tata usaha.
2. MendiskripsikanKasus
Setelah
gejala itu dipahami oleh Konselor sekolah, kemudian dibuatkan deskripsi
kasusnya secara objektif, sederhana, tetapi cukup jelas.
3. Menentukan
Bidang-Bidang Bimbingan
yaitu
menentukan jenis masalahnya, apakah menyangkut masalah pribadi, sosial,
belajar, karier, kehidupan berkarya atau kehidupan beragama.
4. Membuat
Perincian Kasus
Jenis
masalah yang sudah dikelompokkkan itu dijabarkan dengan cara mengembangkan
ide-ide atau konsep-konsep menjadi lebih rinci, agar lebih mudah memahami
permasalahannya secara cermat. Adanya jabaran masalah yang lebih terrinci itu
dapat membantu Konselor sekolah untuk membuat perkiraan kemungkinan sumber
penyebab masalah itu muncul.
5. Memperkirakan
sebab
Perkiraan
kemungkinan sumber penyebab, akan membantu kita menjelajahi jenis informasi
yang dikumpulkan, sumber informasi yang perlu dikumpulkan, dan teknik atau alat
yang digunakan dalam pengumpulan informasi atau data.
6. Memberikan
Bantuan
Yaitu
melakukan kegiatan konseling atau pemberian bantuan (terapi).
Dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan jenis
masalah.
7. Kegiatan
Evaluasi
Kegiatan
evaluasi adalah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini
dimaksudkan untuk menilai seberapa jauh keefektifan penerapan teori konseling
dalam mengatasi kasus yang dialami oleh siswa atau konseli.
8. Tindak
Lanjut/ Follow Up
Langkah
follow-up atau tindak lanjut adalah langkah yang akan diambil, apabila dalam
penanganan kasus masih belum tercapai hasil yang maksimal dan belum mengalami
perubahan yang berarti. Langkah ini dilakukan apabila peneliti dan konselor
tidak mampu menangani masalahnya atau permasalahan siswa memiliki rentetan dan
komplikasi dengan masalah yang lainnya. Terhadap kasus yang telah dicapai adanya
perubahan yang signifikan, maka ada upaya untuk terus mempoertahankan hasil
tersebut, yang selanjutnya perlu untuk ditingkatkan pencapaian hasilnya yang
lebih baik. Pada kasus yang tidak mampu atau diluar kewenangan Konselor
sekolah, maka diadakan konferensi kasus atau alih tangan kasus kepada tenaga-
tenaga ahli yang kompeten terhadap kasus siswa atau konseli.
E. METODE
PENGUMPULAN DATA DALAM STUDI KASUS
Ada berbagai
metode yang digunakan dalam pengumpulan data klien, yaitu :
1. Wawancara
(interview)
Suatu cara memperoleh
data dengan bertemu muka langsung dengan informan melalui teknik Tanya jawab.
Wawancara berdasarkan cara pelaksanaannya dibagi dua yaitu :
a) Wawancara berstruktur adalah
wawancara secara terencana yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah
dipersiapkan sebelumnya.
b) Wawancara tak berstruktur adalah
wawancara yang tidak berpedoman pada daftar pertanyaan. Pedoman wawancara
berupa garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
2. Observasi
Sebagai metode ilmiah,
observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena
yang diselidiki secara sistematik. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya
tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Ada tiga jenis teknik
pokok dalam observasi yang masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-keadaan
tertentu, yaitu:
a) Observasi
Partisipan
Suatu
observasi disebut observasi partisipan jika orang yang rnengadakan observasi
(observer) turut ambil bagian dalam perikehidupan observer. Jenis teknik
observasi partisipan umumnya digunakan orang untuk penelitian yang bersifat
eksploratif.
b) Observasi
non participant
Pada
teknik observasi ini observer tidak ambil bagian secara langsung didalam
situasi kehidupan yang diobservasi tetapi berperan sebagai penonton atau sebagai
pengamat independen
c) Observasi
Sistematik
Yaitu
observasi yang telah dirancang secara sistematis tentang apa yang akan diamati
dan dimana tempatnya. Peneliti (observer) telah mengetahui dengan pasti
variable yang akan di teliti.
d) Observasi
non sistematis
Yaitu
observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan
diobservasi. Observer tidak tau secara pasti tentang apa yang akan diamati.
Ada
beberapa macam alat yang dapat digunakan dalam observasi, yaitu :
1) Anecdotal
record merupakan record atau catatan-catatan yang bersifat kumulatif dari
tingkah laku individu yang luar biasa
2) Check
list merupakan suatu daftar yang mengandung atau mencakup factor-faktor yang
ingin diselidiki.
3) Rating
scale pada umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi tingkah laku atau
sifat yang harus dicatat secara bertingkat.
4) Mechanical
devices, observer dapat menggunakan alat-alat yang lebih baik dalam melakukan
observasi, misalnya tape recorder, foto-foto dst.
Agar
hasil observasi lengkap perlu menggunakan pedoman observasi dan dilaksanakan
dalam bentuk partisipatif.
3. Kuisioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan
yang disusun untuk menyelidiki suatu gejala. Kuisioner merupakan suatu
instrumen penelitian yang terdiri dari serangkaian pertanyaan dan meminta untuk
tujuan mengumpulkan informasi dari responden. Melalui
kuesioner, konselor menanyakan keadaan dan latar belakang klien, melalui klien
itu sendiri, orang tua, atau orang lain yang dapat memberikan keterangan
mengenai klien, yang dilakukan secara tertulis.
4.
Angket
Angket
adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan cara menggunakan sejumlah
pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada orang yang ingin kita peroleh
datanya atau kita sampaikan kepada orang lain yang mengetahui dengan baik
tentang diri orang yang akan kita peroleh datanya.
Macam-macam angket
· Ditinjau
dari segi siapa yang menjawab, terbagi atas :
1.
Angket
langsung, angket dikatakan langsung apabila angket tersebut dikirimkan dan
diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.
2.
Angket
tidak langsung, angket tidak langsung adalah angket yang dikirimkan dan diisi
oleh bukan orang diminta keterangannya.
· Ditinjau dari segi cara menjawabnya
maka angket dibedakan atas :
1.
Angket
tertutup, adalah angket yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap
sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
2.
Angket
terbuka, adalah angket yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi
mengemukakan pendapatnya. Angket terbuka disusun apabila macam jawaban pengisi
belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan beraneka ragam.
Keterangan tentang alamat pengisi, tidak mungkin diberikan dengan cara memilih
pilihan jawaban yang disediakan. Angket terbuka juga digunakan untuk meminta
pendapat seseorang
5. Tes
Test
merupakan suatu metode penelitian psikologis untuk memperoleh informasi tentang berbagai
aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan
menggunakan pengukuran (measurement) yang menghasilkan suatu deskripsi
kuantitatif tentang aspek yang diteliti. Tes
ini ditujukan kepada klien untuk mengungkapkan kemampuan, bakat, maupun
gambaran pribadi klien. Tes adalah alat, maka kemanfaatan dari alat itu
tergantung kepada pemakainya. Satu tes yang baik tetapi digunakan oleh pemakai
yang kurang baik, maka tes tersebut dapat menjadi tidak berguna, demikian
sebaliknya.
Macam-macam
metode tes
· Tes Intelegensi
Tes kemampuan intelektual, mengukur
taraf kemampuan berfikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapi taraf
prestasi tertentu dalam belajar di sekolah
· Tes Bakat
Tes kemampuan bakat, mengukur taraf kemampuan
seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, program pendidikan
vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas
dari tes kemampuan intelektual
· Tes Minat
Tes minat, mengukur
kegiatan-kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan
membantu orang muda dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling
sesuai baginya
· Tes Kepribadian
Tes kepribadian, mengukur ciri-ciri
kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, sepertisifat karakter, sifat
temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi social
dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran
dalam penyesuaian diri.
· Tes
Perkembangan Vokasional
Tes vokasional, mengukur taraf
perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu
pekerjaan atau jabatan dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan
dan ciri-ciri kepribadiannya serta tuntutan-tuntutan social-ekonomis dan dalam
menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya
sendiri.
6. Otobiografi
Otobiografi
adalah lukisan tentang kehidupan individu yang berhubungan dengan
perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang mewarnai pengalaman-pengalamnnya di
sekolah, keluarga dan teman sepermainan, cita-cita dan masalah yang sedang
dihadapi. Otobiografi mempelajari riwayat hidup klien, reaksi/sikap pribadi
serta kejadian penting melalui tulisan atau karangan yang dibuat sendiri oleh
klien.
7. Sosiometri
sosiometri
adalah suatu tehnik untuk mengumpulkan data tentang hubungan sosial seorang
individu dengan individu lain, struktur hubungan individu dan arah hubungan
sosialnya dalam suatu kelompok. Baik tidaknya hubungan
sosial individu dengan individu lain dapat dilihat dari beberapa segi yaitu :
1) Frekwensi
hubungan, yaitu sering tidaknya individu bergaul. makin
sering individu bergaul, pada umumnya individu itu makin baik dalam segi
hubungan sosialnya. Bagi individu yang mengisolir diri, di mana ia kurang
bergaul, hal ini menunjukkan bahwa di dalam pergaulannya kurang baik.
2) Intensitas
hubungan, yaitu intim tidaknya individu bergaul. Makin
intim/mendalam seseorang dalam hubungan sosialnya dapat dinyatakan bahwa
hubungan sosialnya makin baik. Teman intim merupakan teman akrab yang mempunyai
intensitas hubungan yang mendalam.
3) Popularitas
hubungan, yaitu banyak sedikitnya teman bergaul. Makin
banyak teman di dalam pergaulan pada umumnya dapat dinyatakan makin baik dalam
hubungan sosialnya. Faktor popularitas tersebut digunakan sebagai ukuran atau
kriteria untuk melihat baik tidaknya seseorang dalam hubungan atau kontak
sosialnya.
Cara
menganalisa data sosiometri :
1. Mentabulasikan
data sosiometri
a. Membuat
table sosiometri
b. Interpretasi
hasil tabulasi
2. Membuat
sosiogram
Sosiogram adalah diagram yang menunjukkan hubungan atau
interaksi individu dalam sebuah kelompok, yang sekaligus dapat pula ditemukan
pola hubungan sosial individu dengan individu lainnya.(gambaran dari hasil
tabulasi). Ada beberapa cara untuk membuat sosiogram, antara lain :
a. Lingkaran
pilihan
b. Sosiogram
dengan skala garfik vertical
c. Sosiogram
tanpa lingkaran dan grafik skala pilihan
3. Mencari
indeks (kwalitas) hubungan (indeks status pilihan, penolakan serta indeks
status pilihan dan penolakan )
4. Analisa
variasi alasan
8.
Studi dokumentasi
Studi dokumentasi adalah suatu cara
memperoleh data tentang diri siswa dan mungkin juga lingkungannya, dengan
meneliti dokumen-dokumen seperti: raportnya kini dan raport-raport dari
sekolah-sekolah sebelumnya, riwayat hidupnya, buku-buku harian, catatan-catatan
kesehatannya. Dengan kata lain studi dokumentasi adalah kumpulan data pribadi
siswa.
Melalui
dokumen mengenai diri klien, dipelajri hal-hal relevan misalnya : buku induk,
kartu pribadi, dan catatan-catatan tentang individu (klien)
F. ANALISIS
KASUS
1) IDENTIFIKASI
KASUS
Hal
yang paling penting dalam identifikasi kasus adalah siapa individu atau
sejumlah individu yang diduga bermasalah atau membutuhkan bantuan. Identifikasi kasus adalah suatu
langkah awal kegiatan layanan studi kasus yang bertujuan untuk mengumpulkan
data siswa sebanyak-banyaknya, baik yang bersifat umum maupun pribadi
dikumpulkan kemudian dikaji.
2) IDENTIFIKASI
MASALAH
Hal
yang paling penting dalam langkah ini adalah jenis masalah apa yang dialami
kasus dan bagaimana karakteristik masalahnya.
Pada
umumnya permasalaham yang dialami kasus menyangkut pada bidang-bidang:
pendidikan (educational problems), perencanaan karier atau jabatan (vocational
problems), penyesuaian sosial (social problems), pribadi (personal problems),
emosional dan moralitas (morality and emotional problems)
3) DIAGNOSIS
Adalah
melakukan analisi masalah untuk menetapkan factor-faktor penyebab berdasarkan
hasil identifikasi masalah. Hal yang paling penting pada langkah ini adalah apa
yang menjadi factor penyebab masalah yang dihadapi kasus.
Fokus
diagnosis masalah ini diarahkan untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai
hal-hal berikut:
a) Latar
kehidupan konseli, baik kehidupan keluarga, perkembangan akademik dan
pendidikan (termasuk pada jenjang pendidikan sebelumnya), kesehatan, kehidupan
sosial, aktivitas umum yang diikuti, dan berbagai rekam jejak dan portofolio
pengalaman hidup yang dimiliki.
b) Fokus
utama problem yang dihadapi dan terkaitkannya dengan berbagai variabel yang
mempengaruhi kehidupan dan problem yang dialaminya
c) Akar
problem yang bersumber dari aspek internal konseli (pola respons, sikap,
orientasi nilai, atau pola pikir) yang tidak berfungsi efektif
4) PROGNOSIS
Adalah
menganalisis upaya dan strategi yang perlu dilakukan untuk membantu konseli
menyehatkan kembali akar problem yang tidak berfungsi efektif, sehingga mampu
menghadapi situasi problem yang dihadapi.
Langkah prognosis merupaka estimasi alternative pemecahan
masalah yang mungkin dilakukan berdasarkan hasil diagnosis. Hal yang penting
dalam langkah ini adalah apakah masalah yang dialami kasus masih mungkin
diatasi dan alternative pemecahan yang feasible untuk ditempuh.
Dalam prognosis, ada
beberapa tahap kegiatan yang perlu dilakukan, yaitu:
a) Brainstorming,
yaitu mahasiswa mengeksplorasikan berbagai alternatif yang mungkin dan dapat
dilakukan untuk membantu konseling mengatasi dan memperbaiki situasi hidupnya
yang tidak efektif.
b) Mengevaluasi
alternatif. Setiap alternatif yang diidentifikasi, selanjutnya dievaluasi satu
persatu untuk menilai tingkat kecocokannya dengan situasi masalah dan
karakteristik konseli. Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah melakukan
klarifikasi nilai, yaitu mengenali nilai-nilai penting yang dianut atau selalu
menjadi dasar pertimbangan oleh konseli dalam membuat keputusan. Lalu
menghubungkan setiap nilai ini dengan setiap alternatif tindakan yang telah
diidentifikasi.
5) TERAPI/TREATMEN
Treatment
atau usaha bantuan merupakan suatu usaha untuk membantu siswa memecahkan
persoalan sehingga dapat mencapai penyesuaian diri dengan tingkah laku yang
benar sesuai dengan yang diharapkan. Pada langkah ini
dilakukan tindakan pemecahan masalah (therapy/treatment). Menetapkan dan
melakukan cara yang tepat dalam mengatasi kesulitan atau masalah kasus dengan
program yang teratur dan sistematis. Hal ini dilakukan dengan bekerja sama
kepada semua pihak yang mau dan mampu untuk ikut serta mengatasi kesulitan atau
permasalahn kasus.
Pemberian
bantuan yang akan diberikan adalah bimbingan pribadi, bimbingan belajar, dan
bimbingan social dan karier.
1. Bidang
pribadi
siswa
yang tidak atau kuarng mampu menerima keadaan dan kondisi dirinya. Teknik yang
bisa digunakan dalam menangani masalah ini adalah teknik Rasional Emotif
Behavioral Therapy.
langkah-langkah
yang ditempuh yang ditempuh dalam
konseling yaitu :
1) Konselor
memberi keleluasaan kepada konseli untuk berbicara serta menunjukkan
ketidaklogikaan berpikir klien yang menimbulkan gangguan emosi kepada klien.
2) Meyakinkan
konseli untuk mengubah pandangannya dengan menunjukkan apa yang dianggap oleh
konseli itu tidak benar.
3) Konselor
menyerang ketidak logikaan berpikir konseli dan membawa knseli kearah berpikir
yang lebih logis.
4) Konselor
member tugas kepada konseli untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam
situasi nyata.
5) Memberi
peluang kepada konseli untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang menekan
secara bebas.
6) Mendorong
klien kearah prilaku yang diingini dengan jalan memberi pujian dan hukuman
7) Meminta
konseli berjanji kepada konselor untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya.
2. Bidang
social
konseli
yang sulit bergaul dengan orang lain. teknik yang digunakan adalah client
centered therapy. Client Centered
merupakan terapi yang mendasari hal- hal yang menyangkut konsep diri,
aktualisasi diri, teori kepribadian dan hakikat kecemasan. Dimana dalam terapi
client centered ini perilaku yang bermasalah memiliki karakteristik seperti
pengasingan, ketidak selarasan dan berperilaku yang salah penyesuaiannya.
Langkah-langkah yang ditempuh yaitu :
1) Konselor
membantu konseli mengeksplorasi dirinya secara lebih terbuka agar konseli dapat
menyatakan sikap yang menyatakan dirinya yang sesungguhnya.
2) Konseli
mulai menghilangkan sikap dan prilaku yang kaku, membuka diri terhadap
pengalamannya dan belajar untuk dapat bersikap lebih matang dan lebih
teraktualisasi
3) Konseli
belajar dan merasakan dirinya sebagai orang yang berharga, dapat diterima, dan
disenangi oleh orang lain.
3. Bidang
belajar
minat
belajar siswa yang rendah. Teknik
yang digunakan konselor untuk membantu siswa meningkatkann minat belajar adalah
dengan menggunakan pendekatan BEHAVIORISME. Langkah-langkah treatment dalam
pendekatan ini yaitu :
1) Melakukan
pendekatan persuasive kepada konseli dan menjalin hubungan baik.
2)
Memberikan bimbingan agar konseli lebih meningkatkan motivasi
belajar untuk mengatasi kesulitan dalam memahami pelajaran, dan juga
menyarankan kepada konseli untuk membuat jadwal belajarnya, sehingga waktu yang
ada tidak terbuang sia-sia.
3)
Menumbuhkan rasa percaya diri pada konseli bahwa setiap
individu memiliki potensi untuk berkembang kearah yang lebih baik
4)
Bahwa belajar kelompok itu lebih baik, disamping bisa
diskusi dengan teman-temannya hal ini juga bisa menambah keakraban antara
sesama teman, sehingga apabila ada permasalahan bisa saling terbuka.
5)
Memberikan motivasi untuk selalu aktif bertanya apabila
tidak mengerti dalam mengikuti pelajaran yang terkait dengan keinginannya.
6)
Memberikan hadiah ketika konseli mendapatkan nilai
bagus dalam pelajaran
7)
Memberi masukan secara teoritik dan praktek berupa
jangkauan cita-cita mendorong untuk belajar lebih baik dan mendorong untuk
menggunakan kegiatan yang bermanfaat.
8)
Memberikan dorongan untuk introspeksi diri dengan cara
belajarnya, kepribadiannya dan ibadah yang telah dilakukan.
4.
Bidang karir
siswa/konseli
yang sulit memilih jurusan. Dalam masalah ini kami menggunakan teori
perkembangan jabatan dari Hoppock yang menyatakan bahwa pemilihan karir yang
tepat bagi siswa dipengaruhi hal-hal berikut :
1.
Pekerjaan
yang dipilih sesuai dengan kebutuhan atau untuk memenuhi kebutuhan
2. Pekerjaan, jabatan atau karir yang
dipilih adalah jabatan yang diyakini bahwa jabatan atau karir itu paling tidak
memenuhi kebutuhannya
3. Pekerjaan, jabatan atau karir
tertentu dipilih seseorang apabila untuk pertama kali dia menyadari bahwa jabatan
itu dapat membantunya dalam memenuhi kebutuhannya
4. Kebutuhannya yang timbul, mungkin
bisa diterima secara intelektual yang diarahkan untuk tujuan tetentu
5. Pemilihan jabatan/karir akan menjadi
lebih baik apabila seseorang mampu memperkirakan bagaimana sebaiknya jabatan
yang akan datang itu akan memenuhi kebutuhannya
6. Informasi mengenai jabatan/karir
akan membantu dalam pemilihan jabatan/karir yang diinginkan
7. Informasi mengenai jabatan/ karir
akan membantu dalam memilih jabatan/ karir karena informasi tersebut
membantunya dalam menentukan apakah pekerjaan itu dapat memenuhi kebutuhannya
8. Kepuasan dalam pekerjaan tergantung
pada tercapai tidaknya pemenuhan kebutuhan seseorang
9. Kepuasan kerja dapat diperoleh dari
suatu pekerjaan yang memenuhi kebutuhan sekarang/ masa yang akan dating
10. Pemilihan pekerjaan selalu dapat
berubah apabila seseorang yakin bahwa perubahan tersebut lebih baik untuk
pemenuhan kebutuhannya.
Dasar dari toeri Hoppock kemudian dijadikan pedoman bagi
seoraang konselor untuk membimbing konseli dalam memilih jurusan.
6) EVALUASI
Devies
mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses sederhana memberikan atau
menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja,
proses, orang, objek dan masih banyak yang lain (davies, 1981;3) sedangkan Wand
dan brown mengemukakan evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai
dari sesuatu (dalam Nurkancana, 1986:1). Pengertian evaluasi lebih dipertegas
lagi dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada
objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu (Nana Sudjana, 1990:3).
Dengan
berdasarkan batasan-batasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa evaluasi secara
umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu
(tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, objek dan yang lain)
berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian.
Beberapa
kriteria keberhasilan dan efektivitas layanan bantuan (terapi/tritmen), antara
lain :
1. Kriteria
keberhasilan yang tampak segera (immediate criteria) :
a. Apabila
kasus telah mulai menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi
b. Apabila
kasus telah mulai mamahami (self insight, self understanding) permasalahan yang
dihadapi
c. Apabila
kasus telah menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan dirinya dan
masalaahnya secara objektif (self acceptance)
d. Apabila
kasus telah mulai menurun ketegangan emosionalnya (emotional stress)
e. Apabila
kasus telah menunjukkan sikap keterbukaan (openness) serta mau memahami dan
menerima kenyataan lingkungannya secara objektif
f. Apabila
kasus telah mulai berkurang dan menurun penentangannya terhadap lingkungan
g. Apabila
kasus telah mulai menunjukkan kemampuannya untuk mengadakan pertimbangan
(reasoning), mengadakan pilihan (choice), dan pengambilan keputusan (decision
making) serta sehat dan rasional (sound and rational)
h. Apabila
kasus telah menunjukkan kesediaan dan kemampuan untuk melakukan usaha-usaha
tindakan perbaikan dan penyesuaian (adjustment) baik terhadap dirinya maupun
lingkungannya sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah
diambilnya.
2.
Kriteria keberhasilan dalam jangka
panjang (long term criteria)
a. Apabila
kasus telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan (happiness) dalam kehidupannya
yang dihasilkan dari tindakan-tindakan dan usaha-usahanya
b. Apabila
kasus telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan factor
yang dapat membawanya ked ala kesulitan
c. Apabila
kasus telah menunjukkan sifat-sifat yang ktreatif, konstruktif, produktif,
kontributif, dan akomodatif sehingga ia dapat diterima dan mampu menjadi
anggota kelompok yang efektif.
Cara-cara yang dapat ditempuh untuk
memperoleh data/informasi atas indicator-indikator keberhasilan layanan
terapi/treatment meliputi bermacam jenis, antara lain :
·
melalui observasi selama berinteraksi
dalam wawancara atau berbagai kesempatan yang bersifat informal
·
melalui analisis atau perubahan dalam
prestasi belajar dan penyesuain diri
·
malalui analis laporan dari kasus (self raport)
·
laporan pengamatan teman-temannya
(sosiometri, inventories)
·
orangtuanya atau pihak-pihak lain yang
ada hubungan pergaulan dengan kasus (guru,konselor).
DAFTAR
PUSTAKA
Abimanyu, Soli. 1983. Teknik Pemahaman Individu
(Teknik Non Tes). Ujung Pandang : FIP IKIP Ujung Pandang
Daruma, A. Razak. 2003. Pengantar Tes Psikologi.
Makassar : FIP UNM
Daruma, A. Razak dan Sulaiman Samad dan Sri Sofiani.
2004. Studi Kasus. Makassar : FIP UNM
Mudjiono
dan Dimyanti. 2006. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Prayitno
dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sugiono.
2001. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alpabeta
Suwandi
dan Basrowi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta : Rineka Cipta
Winkle,
W.S dan Hastut,i Sri. 2007. Bimbingan Konseling. Yogyakarta : Media Abadi
Yin,
K Robert. 2002. Studi Kasus Design dan Metode. Jambi : Rajawali Pers
.2012.
Panduan Praktik Pengalaman Lapangan Bimbingan Konseling. Makassar : PPB FIP UNM
DAFTAR
PUSTAKA
Abimanyu, Soli. 1983. Teknik Pemahaman Individu
(Teknik Non Tes). Ujung Pandang : FIP IKIP Ujung Pandang
Daruma, A. Razak. 2003. Pengantar Tes Psikologi.
Makassar : FIP UNM
Daruma, A. Razak dan Sulaiman Samad dan Sri Sofiani.
2004. Studi Kasus. Makassar : FIP UNM
Mudjiono
dan Dimyanti. 2006. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Prayitno
dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sugiono.
2001. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alpabeta
Suwandi
dan Basrowi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta : Rineka Cipta
Winkle,
W.S dan Hastut,i Sri. 2007. Bimbingan Konseling. Yogyakarta : Media Abadi
Yin,
K Robert. 2002. Studi Kasus Design dan Metode. Jambi : Rajawali Pers
.2012.
Panduan Praktik Pengalaman Lapangan Bimbingan Konseling. Makassar : PPB FIP UNM
TUGAS MID
RANGKUMAN MATERI
STUDI KASUS

OLEH
:
ARNI
ULAN
094404058
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI MAKASSAR
2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar